PopUp MP3 Player (New Window)

Sahira on Newspaper

 

Rabu, 22 September 2010 , 11:32:00
Sahira, Hotel Berkonsep Madani (1)
Pasangan bukan Muhrim Dilarang Tidur Sekamar

 


MEWAH: Tampak Sahira Butik Hotel yang mirip bangunan Tajmahal, India.

Kaum muslim kini tak perlu khawatir lagi akan adanya anggapan yang tidak-tidak jika check in di hotel, menyusul berkembangnya hotel-hotel syariah di kota-kota besar. Sahira Butik Hotel misalnya, yang menganut konsep madani. Penerapannya tak jauh berbeda dengan hotel berkonsep syariah. Seperti apakah itu?

Laporan: Lily Suryani

Bangunan yang berdiri kokoh di atas luas tanah 3 ribu meter persegi ini begitu megah.

Ya, sesuai konsep madani,Sahira Butik Hotel lebih mirip  bangunan Tajmahal (India, red) dengan sentuhan interior kubah-kubah yang menjulang.

Nuansa putih di hampir seluruh bangunannya semakin memperkuat kesan mewah hotel  yang memiliki 81 kamar ini.

Sahira Butik Hotel memang dibuat khusus dengan sentuhan islami, sehingga tamu yang datang pun tentu harus mengikuti aturan-aturan yang diterapkan manajemen hotel. Salah satu yang mencolok dan mutlak ialah larangan tidur sekamar bagi mereka yang bukan muhrim.

Untuk itu, jangan kaget jika para tamu hotel yang akan menginap, khususnya mereka yang berpasangan, langsung ditanyakan surat nikah. Hal ini tentu sedikit banyak menyinggung pasangan bukan muhrim yang hendak check in satu kamar.

Aturan ini tentu mengecewakan pasangan bukan muhrim yang ingin tidur sekamar. Padahal, tak sedikit para tamu hotel yang mengotot untuk diberikan tempat sekamar meski rela merogoh saku cukup dalam demi membayar sewa kamar.

Meski demikian, ujung-ujungnya mereka meninggalkan customer service dengan muka dongkol.

Sebenarnya pihak hotel tak pernah melarang pasangan yang bukan muhrim untuk check in, dengan alternatif pilihan tidak tidur sekamar.

Namun terkadang, opsi itu dikonotasikan lain oleh tamu yang ingin ‘check in plus’ dengan alasan lokasi kamar yang berjauhan. Sebagai alternatif lain, biasanya pihak hotel memberikan pilihan lain dengan memberikan kamar conecting yaitu kamar yang memiliki pintu penghubung yang berdampingan.

“Bisa saja pilihan tersebut, tapi pintu connecting-nya tetap kami yang pegang dan tak bisa kami berikan,” ujar General Manajer Sahira Butik Hotel, Eri Arifin kepada Radar Bogor, kemarin.

Tak ditampik Eri, aturan untuk menunjukkan surat nikah bagi pasangan yang sudah menikah sudah menjadi satu keharusan jika ingin check in di hotelnya. Namun seperti diketahui, tak semua pasangan suami-istri ke mana-mana membawa surat nikah.

Mengantisipasi hal tersebut, bagi pihak Hotel sendiri bukanlah hal yang sulit.

Sebab, belajar dari pengalaman bertahun-tahun, para pegawai hotel ini seperti sudah dibekali ilmu tersendiri untuk bisa membedakan mana pasangan suamiistri dan yang hanya mengakungaku.

“Kita biasanya lihat dari KTP, kalau alamatnya sama, itu pasti suami-istri,” ujarnya. Selain itu, dari bahasa tubuh yang diberikan, setidaknya mampu memberikan isyarat apakah itu pasangan muhrim atau bukan.

Diakui Eri, kalau memang mereka memiliki tujuan baik, yakni hanya bermalam, hal itu (pemisahan kamar) tak jadi masalah.

Konsep madani sendiri, lanjutnya, bukan berarti nonmuslim lantas tak bisa menginap. Sebaliknya, siapa saja bisa check in di Sahira asalkan mengikuti aturan main yang diterapkan. Karena, tak sedikit pula tamu-tamu hotel yang berasal dari kalangan bule.  Selain itu, aturan yang tak kalah kerasnya ialah tidak boleh mengonsumsi minuman beralkohol.

Maka tak heran jika Hotel Sahira tak menjual minuman keras. “Kami juga tak menerima tamu yang check in dalam keadaan mabuk,”  paparnya.(*)

+62 251 322413
832 2413
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.